Bienvenue.
There's 8 pages in here, including what you're seeing now.
1. The page you're seeing now.
2. The welcome page.
3. About the girl.
4. The Writings.
5. Place where people speak quickly.
6. Direction to outside.
7. About some miscellaneous.
8. Credits.
Surat Tahun Pertama (1979)
11:55 AM Saturday, August 1, 2009
Seturunnya gadis ini dari Kereta bersama teman-temannya, Hortensia kini bisa melihat seorang manusia yang tinggi sekali. Ya, jauh lebih tinggi daripada kakaknya Savant, yang notabene orang tertinggi di rumahnya dan yang pernah dilihat Hortensia-—sampai dia melihat pria itu. Apakah dia seorang raksasa? Mungkin, karena Hortensia akan menyebut orang yang setinggi dan sebesar itu memilikki kelainan apabila dia adalah manusia biasa. Mungkin gigantisme, tapi bisa juga bukan.
Sekarang dia diwajibkan untuk menaikki sebuah gondola menuju ke arah kastil Hogwarts bersama 5 anak lainnya. Jubah hitamnya sudah melekat rapi di tubuhnya. Barang-barangnya juga nampaknya telah dibawa bersama dengan barang-barang anak lainnya. Mungkin mereka mempunyai cara tersendiri untuk membawa barang-barang itu. Suatu sihir tingkat tinggi yang Hortensia juga belum paham caranya. Ingat, belum itu berbeda dengan tidak.
Dari kejauhan, sang perempuan muda bisa melihat kastil besar itu berdiri kokoh dengan menara-menaranya. Besar sekali. Sepertinya lebih besar dari Istana Versailles ataupun Istana Buckingham. Hortensia tersenyum. Hogwarts memberikan banyak kejutan dari pada apa yang ia kira. Sekarang dia mulai tidak menyesal masuk ke sekolah sihir ini. Anak itu melihat ke samping kiri dan kanannya, puluhan anak-anak nampak tegang ataupun bersemangat. Suasana dan langit gelap di atasnya menghalangi matanya untuk melihat lebih jelas meski kelap kelip cahaya lampu di sekujur istana membantunya sedikit.
Sesampainya di seberang danau, Pria besar itu mengantarnya masuk ke dalam kastil, menuju ke depan sebuah pintu besar. Di sana ia bisa melihat seorang wanita tua dengan keriput-keriput di wajahnya. Hortensia bisa melihat gurat wajah tegas dan kebijaksanaan di wajah wanita itu. Pastilah dia seorang guru di sini, atau seseorang berpangkat tinggi di Hogwarts. Mungkin dia adalah McGonagall yang menulis surat untuk para siswa itu.
"Selamat datang di Hogwarts!" serunya kepada para murid baru itu, termasuk Hortensia.
"Saya Profesor Minerva McGonagall, wakil kepala sekolah Hogwarts. Baris yang rapi, dua-dua dan ikuti saya!" lanjutnya dengan cepat.
Wow, dugaan Hortensia benar. Dia tersenyum sendiri. Bila didengar dari perkataan professor McGonagall, ternyata dia juga bukan orang yang suka membuang waktunya, ya? Anak perempuan itu segera membuat barisan dan dia melangkah cepat mengikuti anak-anak lainnya memasukki aula besar Hogwarts. Ruangan itu telah dipenuhi oleh anak-anak yang jauh lebih besar darinya. Mereka duduk di kursi panjang ruangan itu dan terbagi menjadi empat. Warna merah, kuning, biru dan hijau terpampang di sekitar ujung jubah mereka.
Hortensia kemudian melihat ke langit-langit ruangan. Nampak pemandangan awan hitam kelam dan lilin-lilin berterbangan. Kejutan lain, bagaimana mereka membuat langit-langit tersebut sedemikian rupa? Tentu dengan sihir, tapi bagaimana caranya? Di satu sisi Hortensia melihat banner-banner berwarna merah emas menghiasi ruangan. Dia melirik ke arah anak-anak dengan garis jubah mereka yang berwarna merah. Pasti mereka "pemilik" banner-banner yang tergantung di langit-langit itu. Asrama terbaik, mungkin.
Dan ketika langkahnya terhenti, Hortensia kini hanya bisa celingak-celinguk melihat anak-anak bertubuh tinggi di sekitarnya. Cih, dia begitu pendek. Dia ingin melihat ke depan dan mengetahui apa yang ada di sana, tapi dia mengurungkan niatnya. Nanti ketika gilirannya, dia juga bisa melihatnya, kan?
Hortensia terdiam dan merenung, sampai sebuah suara yang berasal dari depan bernyanyi-nyanyi. Sekarang Hortensia benar-benar ingin melihat apa yang ada di depannya. Dia berusaha jinjit dan melihat apa yang ada di sana. Oh, sebuah topi rupanya.
♪♫♪♫♪♫♪♫
Andai aku singa sejati
Ku takkan takut pada apapun
Bila aku ular yang licik
Semua inginku haruslah tercapai
Musang yang loyal, selalu ramah
Tak pernah sombong, rajin menabung
Burung gagak, burung yang pintar
Binatang keren, seperti akyu
Tapi kenyataan aku hanya murid biasa
Kuingin asrama menerimaku apa adanya
Ku adalah singa, kuat dan berani
Ku adalah ular berpikir slalu licik
Ku adalah musang, punya banyak teman
Ku adalah gagak, selalu ke perpustakaan
♪♫♪♫♪♫♪♫Ah, lagu tentang keempat asrama Hogwarts, kah? Singa, sekarang Hortensia melihat ke atas langit-langit. Banner merah emas bergambarkan singa itu nampak tergantung dengan penuh kebanggaannya. Hortensia hanya tersenyum tipis. Mungkinkah dia menjadi seorang yang pemberani dan kuat? Sepertinya kurang. Dia selalu menarik dirinya dari suatu keterlibatan yang benar-benar tidak menarik perhatiannya. Khas seorang phlegmatik.
Ular yang licik? Sepertinya tidak juga. Hortensia bukanlah orang yang licik. Setidaknya itulah penilaiannya sendiri. Hortensia melirik ke arah meja dengan anak-anak bergaris jubahnya yang hijau. Kelihatan dari wajah mereka, mereka sepertinya memang orang-orang licik... dan lagi, itu hanyalah penilaian Hortensia. Kau takkan tahu sampai kau benar-benar mengenalnya.
Musang yang loyal, selalu ramah, tak pernah sombong dan rajin menabung? Ah, sounds like her. Tetapi bila menilik dari akhiran lagu itu, punya banyak teman... Hortensia mulai menjadi ragu sendiri. Dia tidak pernah memilikki banyak teman semenjak tinggal di London. Bahkan teman-teman pertamanya di sini adalah para anak-anak yang sekompartemen dengannya. Helen, Ro, Ash, dan satu orang lagi, Melodyca yah? Apakah itu terhitung banyak? Hortensia juga jadi bingung sendiri.
Dan gagak yang pintar... dan selalu ke perpustakaan... Nah, di sini Hortensia ragu lagi. Dia tidak pintar. Hortensia bisa dibilang cukup buruk dalam menghapal dan hitung-hitungan. Ingatannya tidak buruk, tapi cukup terbatas, dia tidak bisa mengingat banyak-banyak bila dipaksakan... dan sekalipun Hortensia suka membaca, dia pasti akan lebih memilih membaca di luar ruangan itu.
Jadi, yang manakah asrama yang cocok untuk Hortensia? Biarkan sang topi memilih karena dia sendiri juga bingung.
"Lenoir, Hortensia Raine!"Hortensia tersentak mendengar namanya disebut. Tak sadar bahwa jumlah orang-orang di sekitarnya telah berkurang lantaran dia melamun tentang keempat asrama tersebut. Dia melihat ke depan dan nampak kursi dengan topi itu sudah kosong. Kalau dia tidak salah dengar tadi, pasti itulah namanya yang disebut. Hortensia segera melangkah cepat ke depan dan duduk di kursi itu. Tiba-tiba, dia bisa merasakan sebuah benda mendarat di atas rambut coklatnya yang panjang itu. Pertanda bahwa dia akan segera disortir untuk memasuki sebuah asrama.
Matanya terpejam sembari berpikir ulang tentang keempat asrama tersebut. Kira-kira asrama apa yang akan menjadi tempat dia bernaung selama 7 tahun ini?
Kini dia hanya bisa menunggu.
Labels: Non-plot, Posts